Bandar Susah Ditangkap, RI Terjebak dalam Jerat Judi Online Yang Sulit Dipecahkan!

GadgetOz.com –

Bandar Judi Online Sulit Ditangkap, Pakar Keamanan Siber Sebut Fokus Perlu Dialihkan

Pakar keamanan siber menyebut bahwa penangkapan bandar judi online yang sering kali tidak berada di Indonesia membuat tugas tersebut cukup sulit untuk dilakukan. Selain itu, bandar judi online juga seringkali beroperasi di negara yang melegalkan perjudian. Hal ini diungkapkan oleh Pengamat dan Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber Communication and Information System Security Research Center (CISSReC), Pratama Persadha.

Menurut Pratama, penyembunyian identitas diri bandar judi online yang ketat juga menjadi faktor utama yang membuat penangkapan bandar judi online sulit dilakukan. Namun, Pratama menekankan bahwa yang lebih penting saat ini adalah bagaimana menurunkan tingkat permainan judi online di Indonesia agar tidak ada lebih banyak warga yang menjadi korban dari praktik perjudian online ini.

Pratama menjelaskan bahwa meskipun penangkapan bandar judi online merupakan salah satu upaya yang harus dilakukan untuk menghentikan judi online, namun jika hal tersebut terbukti sangat sulit dilakukan, maka lebih baik fokus untuk memutuskan rantai antara pengguna judi online dengan permainan judi online. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan pemblokiran akses ke server judi online, memblokir nomor rekening dan dompet digital yang digunakan untuk deposit, serta menangkap influencer dan agen yang terlibat dalam promosi dan pengelolaan situs judi online.

Pratama menilai bahwa Indonesia mungkin akan sulit untuk sepenuhnya terbebas dari praktik judi online. Menurutnya, pemerintah akan terus berlomba dengan bandar dan operator judi online dalam upaya untuk membersihkan lingkungan perjudian online di Indonesia.

Efektivitas Satgas Pemberantasan Judi Online Diharapkan Mampu Mengurangi Korban

Meskipun tidak mungkin untuk memberantas judi online secara total, Pratama berharap bahwa sejumlah tindakan yang dilakukan oleh Satgas Pemberantasan Judi Online akan efektif dalam mengurangi jumlah warga masyarakat yang terlibat dalam praktik perjudian online. Sudah menjadi fakta bahwa judi online telah merambah semua kalangan, termasuk anak-anak, ibu rumah tangga, polisi, dan bahkan anggota DPR.

Berdasarkan laporan dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), transaksi judi online telah meningkat secara signifikan sejak tahun 2019 hingga tahun 2021. Pada 2017, PPATK menemukan dana sebesar Rp2,1 triliun terkait dengan transaksi judi online. Angka tersebut terus berkembang hingga mencapai Rp327 triliun pada tahun 2023.

Kepala PPATK, Ivan Yustiavandana, mengungkapkan bahwa pada kuartal I/2024, transaksi judi online telah mencapai lebih dari Rp101 triliun. Lebih dari 1.000 anggota DPR dan DPRD juga terlibat dalam praktik perjudian online, dengan nilai deposit mencapai Rp25 miliar dan transaksi mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Dengan kondisi yang semakin memprihatinkan ini, peran Satgas Pemberantasan Judi Online diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam mengurangi dampak negatif dari praktik perjudian online di Indonesia. Meskipun tantangan dalam menangkap bandar judi online terbilang sulit, upaya untuk memutus rantai perjudian online di Indonesia tetap harus terus dilakukan secara bertahap dan terkoordinasi dengan baik.

Temukan Artikel Viral kami di Google News